Belum hapal..udah hapal tapi sedikit..cuma sampe perkalian lima aja..kira-kira reaksi seperti itu yang sering saya temui ketika mengajar di kelas, bahkan ada yang mesem-mesem aja kalau ditanya “udah hapal perkalian belum?”. Terkadang anak yang mengaku sudah hapal perkalian ketika di tes, atau mengerjakan soal latihan juga masih banyak lupanya.
Dalam matematika perkalian bagaikan senjata yang harus dimiliki setiap murid sebelum berjuang lebih jauh menaklukkan berbagai rumus dan soal. Bayangpun, eh bayangkan coba.. mau ke medan perang tanpa senjata memadai, yo modar. Begitu juga ketika belajar matematika, maksud hati hendak menyelesaikan soal, apa daya rumus yang berusaha dihapal tak banyak membantu karena kesulitan menggunakannya sebab tak hapal perkalian.
Ada cerita dari rekan guru yang terdengar agak miris sebenarnya, ketika mengajar dia mendapati muridnya belum hapal perkalian. Terus dimana mirisnya? Mirisnya, teman saya mengajar di level sekolah menengah atas (SMA). Saya sering menemui anak-anak di tingkat sekolah dasar yang belum hapal perkalian, bahkan hingga menjelang Ujian Sekolah (UN). Hal tersebut tidak pernah saya khawatirkan, karena saya berkeyakinan seiring meningkatnya level pendidikan si anak akan mampu menghapal dengan sendirinya. Hingga saya mendengar cerita dari rekan guru itu, ternyata asumsi saya tidak tepat seluruhnya.
Sering saya memotivasi siswa agar berusaha mencoba menghapal perkalian, tidak ketinggalan saya berikan berbagai tips klasik, baik cara, metode, maupun waktu menghapal. Bukan bermaksud memaksakan matematika menjadi sesuatu yang mereka favoritkan, bukan itu tujuan saya. Semangat berusaha, pantang menyerah, menjadi lebih baik, dan memperbaiki kekurangan diri sendiri itu yang saya inginkan dari proses tersebut. “Tidak bisa menguasai matematika tidak akan menjadikan kalian orang yang gagal, banyak cara lain untuk menjadi sukses”, motivasi saya kepada anak-anak didik saya, “Tapi mudah menyerah itu yang menjadikan kalian gagal dalam hidup, kita harus mencoba dulu, kalau gak dicoba kan gak tau”
Pernah saya diminta mengajar privat di rumah oleh orang tua murid di luar tempat saya mengajar. Tidak langsung saya terima pekerjaannya, tapi saya minta ketemuan aja dulu. Ayah si anak bercerita anaknya yang kelas 5 sudah sejak lama kesulitan matematika, bahkan sering mengatakan dirinya membenci matematika. Singkat cerita tawaran tersebut saya terima, dan tidak sampai disitu ternyata hal ini juga menarik perhatian saudara keluarga tersebut, dan meminta saya mengajar anaknya yang kelas 4. Sekarang kedua anak tersebut sudah di level sekolah menengah pertama. Pada awal pertemuan belajar, saya tidak fokus ke materi, saya lebih tertarik mendiagnosa kemampuan mereka. Ibarat seorang dokter yang hendak memberikan perawatan, jelas harus memahami kondisi pasiennya. Saya mulai dengan memberikan soal-soal penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, dan wow..cukup lambat. Pertemuan awal saya sudah mengetahui kondisi anak didik saya selanjutnya menentukan solusi yang baik untuk mereka. Setiap pertemuan sekitar 90menit, sekitar 10-20 menit digunakan untuk mengasah kemampuan perkalian dan pembagian mereka, dan alhamdulillah setelah beberapa minggu pertemuan hasilnya sangat signifikan. Hingga keduanya lulus sekolah dasar saya dapat lihat sendiri, anak-anak yang tadinya dianggap tidak mampu di sekolah, dan membenci matematika, dengan solusi sederhana mampu menjadikan mereka sangat menyukai matematika. Sekali lagi saya melihat sendiri, tidak ada anak yang bodoh, hanya belum mencoba semua cara saja.
”Kamu tidak akan gagal hanya karena tidak bisa matematika”
Cara ini sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang tua, tanpa harus mendatangkan guru les privat ke rumah, namun kesibukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya. Ayah dan bunda tau, ada murid saya yang selalu dibully setiap kelas matematika hanya karena tidak bisa mengerjakan soal yang paling sederhana sekalipun. Secara pribadi saya sering meyakinkan dia,”Kamu tidak akan gagal hanya karena tidak bisa matematika”. Mudah-mudahan itu bisa membesarkan hatinya. Bisa jadi menghapal perkalian yang kita remehkan, menyebabkan anak kita kesulitan, lalu dia direndahkan, kemudian hilang kepercayaan dirinya, disusul hilangnya semangat, bisa jadi kebahagian masa sekolah dasarnya lenyap begitu saja karena hal yang begitu sepele. Ayah dan bunda, sudahkah mengetahui kemampuan perkalian mereka saat ini?
Semoga bermanfaat.