Ceritanya lagi gencar penolakan terhadap wacana FULL DAY School oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Menurut bapak menteri, ‘full day school’ bukan berarti belajar sehari penuh, namun juga diisi kegiatan penanaman karakter (antaranews.com).
Saya sih gak terlalu mengikuti perkembangan beritanya, tau-tau udah heboh aja yang kontra, dan tiba-tiba wacana tersebut ditarik kembali oleh pak menteri. Sebagai seorang pengajar saya pribadi dalam posisi kontra dengan wacana ‘full day school’. Selama ini saya berasumsi anak didik saya kekurangan sentuhan tangan orang tuanya malah, sejak pagi sudah berangkat sekolah, pulangnya ikut les tambahan di sekolah maupun bimbingan belajar. Masa emas mereka banyak habis di luar rumahnya, ditangan para guru dan pengajar, bukan bersama kedua orang tuanya.
Memang karakter yang terbentuk pada setiap anak berbeda hasilnya ketika menghadapi situasi tersebut, ada yang saya lihat kondisinya selalu murung dan di bully temannya, ada yg sangat aktif dan jahil, ada yang cuek saja seperti tidak perduli, dan lainnya. Persamaan yang ada pada mereka semua adalah kurangnya adab dan ahlak, mungkin generasi yang besar di tahuan 90-an bisa merasakan degradasi adab dan ahlak terjadi pada generasi sekarang.
Mungkin kedua orang tuanya tidak lagi menjadi teladan yang baik, ketika supir dan pengendara ojek menjadi teman setia yang mengantarkan dan menjemput mereka setiap hari, dan sesampainya di rumah di sambut pembantu yang sebenarnya kedua profesi yang saya sebut tadi tidak lebih berpendidikan dari orang tua mereka. Sayangnya hasil sekolah yang begitu tinggi dari kedua orang tua para siswa tidak dimanfaatkan untuk mendidik dan membentuk adab dan ahlak yang baik pada anak-anaknya, namun lebih diutamakan untuk kepentingan bisnis, kantor, rekan dalam rangka mencari kesenangan dan materi, dan mengabaikan mendidik anak-anak mereka.
Pernah saya dapati cerita dari seorang siswa, yang notabenenya kedua orang tuanya lulusan UNIVERSITAS TOP di Indonesia, di jurusan yang mentereng juga tentunya, sebut saja berbau teknik. Melihat si anak agak lambat dalam belajar saya mencoba mengajak ngobrol si anak. Hingga si anak menjelaskan kalau kedua orang tuanya lulusan fakultas favorit di universitas ternama, ayah bekerja di luar kota yang hanya berjarak beberapa jam perjalanan sehingga setiap hari dapat pulang ke rumah, dan ibu yang tidak bekerja hanya di rumah. Saya makin penasaran, ini anak ibunya di rumah tapi kok agak lambat ya dalam belajar. Ternyata oh ternyata keberadaan ibu di rumah seringkali mengabaikan keberadaan anak, seperti kebanyakan orang tua yang hanya menyuruh anaknya belajar dan tidak ditemani, terjadi juga pada ibu ini. Anaknya bilang ibunya seringnya cuma nyuruh belajar, lalu ditinggal menonton film korea oleh ibunya (korea lovers ternyata si ibu itu). Yo wis, pada bae kalau begitu.
Anak pulang lebih awal dari sekolah saja, masih banyak orang tua berlepas diri terhadap anaknya. Mereka berpikir kewajiban mereka sudah diserahkan ke pihak sekolah. Bagaimana kalau ‘full day school’ ya???
Ahh..aku yo mumet jal…
Materi ekonomi itu penting, pendidikan anak juga sangat penting. Apalagi bagi muslim yang meyakini kelak anak-anak mereka menjadi aset jika kelak mereka sudah meninggal dunia. Karena amalan yang dapat terus mengalir bagi seorang muslim setelah meninggal hanya tiga, yaitu :
- Sedekah jariah (sedekah harta di jalan yang baik sesuai syariat agama Islam)
- Doa anak yang shalih (terutama yang dididik langsung oleh orang tua atau ada peranan orang tua dalam pendidikannya)
- Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan (bayangkan jika berbagai pengetahuan yang anda ajarkan kepada anak anda digunakannya dalam kehidupannya, kebaikan akan terus mengalir bagi anda)
Bekerja dan mendidik anak bukanlah suatu hal yang menarik untuk menjadi bahan perdebatan, setiap keluarga memiliki karakter anggota dan kondisi yang berbeda-beda, sebaiknya sebagai orang tua senantiasa belajar menjadi sosok yang bermanfaat bagi anak-anaknya, mudah-mudahan kelak anak-anak anda bermanfaat bagi anda baik di dunia maupun di akhirat, amiin. Semoga curahan opini saya ini bermanfaat. Terima kasih.