18/10/16

Assalamualaikum..
Kali ini saya akan membuat satu artikel khusus yang berisi berbagai Prediksi Soal US SD. Soal-soal ini dapat digunakan untuk latihan para guru bersama siswa atau murid, atau orang tua yang akan membahas soal bersama anaknya. Sebagian besar soal-soal ini saya dapatkan dari internet, yang saya download melalui berbagai situs. Jadi saya tidak mengatakan sebagai milik pribadi, soal-soal ini saya upload ulang untuk memudahkan rekan-rekan yang sedang mencari soal-soal prediksi un atau soal prediksi us sekolah dasar.
Jangan bingung jika ada soal yang sama, karena saya mendownload dari berbagai situs di internet, dan banyak pemilik situs atau blog yang mengupload ulang dan tidak menjelaskan bahwa soal-soal tersebut bukanlah milik mereka. Jadilah file yang sama diupload ulang oleh banyak orang. Saya sudah sebisa mungkin menghilangkan file soal yang sama, mudah-mudahan file Prediksi Soal US SD yang saya upload ulang ini bervariasi dan tidak ada yang sama.
Saya sendiri masih membuat Prediksi Soal US SD untuk siswa saya ketika ada keluangan waktu. InsyaAllah soal yang saya buat sendiri dan saya dapatkan dari sumber lain akan saya upload disini, jadi insyaAllah artikel yang berisi Prediksi Soal US SD ini akan diupdate terus jika ada soal yang baru.
Untuk mendownload Prediksi Soal US SD, langsung diklik saja. Maaf jika ada iklan yang mengganggu selama menuju proses download, namanya juga menggunakan blog gratisan, dan tempat upload gratisan, hehehe..
Setiap link berisi satu paket soal prediksi us sd 2016/2017, link ini saya khususkan bagi anda yang kecepatan internetnya tidak terlalu cepat. Jika koneksi internet anda cukup cepat, bisa gunakan link download di artikel yang ada di sini [klik saja]. Langsung aja di download, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Silahkan pilih salah satu link untuk mendownload file Prediksi Soal US SD 2016/2017. Silahkan klik salah satu link, jika muncul halaman adf.ly, tunggu selama 5 detik, kemudian klik "skip", dan anda akan menemukan halaman download.
  1. Soal 1     [Link 1]   [Link 2]
  2. Soal 2     [Link 1]   [Link 2]
  3. Soal 3     [Link 1]   [Link 2]
  4. Soal 4     [Link 1]   [Link 2]
  5. Soal 5     [Link 1]   [Link 2]
  6. Soal 6     [Link 1]   [Link 2]
  7. Soal 7     [Link 1]   [Link 2]
  8. Soal 8     [Link 1]   [Link 2]
  9. Soal 9     [Link 1]   [Link 2]
  10. Soal 10  [Link 1]   [Link 2]
  11. Soal 11  [Link 1]   [Link 2]
  12. Soal 12  [Link 1]   [Link 2]
  13. Soal 13  [Link 1]   [Link 2]
  14. Soal 14  [Link 1]   [Link 2]
  15. Soal 15  [Link 1]   [Link 2]
  16. Soal 16  [Link 1]   [Link 2]
  17. Soal 17  [Link 1]   [Link 2]
  18. Soal 18  [Link 1]   [Link 2]
  19. Soal 19  [Link 1]   [Link 2]
  20. Soal 20  [Link 1]   [Link 2]
  21. Soal 21  [Link 1]   [Link 2]
  22. Soal 22  [Link 1]   [Link 2]
  23. Soal 23  [Link 1]   [Link 2]
  24. Soal 24  [Link 1]   [Link 2]
  25. Soal 25  [Link 1]   [Link 2]
  26. Soal 26  [Link 1]   [Link 2]
  27. Soal 27  [Link 1]   [Link 2]
  28. Soal 28  [Link 1]   [Link 2]
  29. Soal 29  [Link 1]   [Link 2]
  30. Soal 30  [Link 1]   [Link 2]
  31. Soal 31  [Link 1]   [Link 2]
  32. Soal 32  [Link 1]   [Link 2]
  33. Soal 33  [Link 1]   [Link 2]
  34. Soal 34  [Link 1]   [Link 2]
  35. Soal 35  [Link 1]   [Link 2]
  36. Soal 36  [Link 1]   [Link 2]
  37. Soal 37  [Link 1]   [Link 2]
  38. Soal 38  [Link 1]   [Link 2]
  39. Soal 39  [Link 1]   [Link 2]
  40. Soal 40  [Link 1]   [Link 2]
  41. Soal 41  [Link 1]   [Link 2]
  42. Soal 42  [Link 1]   [Link 2]
  43. Soal 43  [Link 1]   [Link 2]
  44. Soal 44  [Link 1]   [Link 2]
  45. Soal 45  [Link 1]   [Link 2]
  46. Soal 46  [Link 1]   [Link 2]
  47. Soal 47  [Link 1]   [Link 2]
  48. Soal 48  [Link 1]   [Link 2]
  49. Soal 49  [Link 1]   [Link 2]
  50. Soal 50  [Link 1]   [Link 2]
  51. Soal 51  [Link 1]   [Link 2]
  52. Soal 52  [Link 1]   [Link 2]
  53. Soal 53  [Link 1]   [Link 2]
  54. Soal 54  [Link 1]   [Link 2]
  55. Soal 55  [Link 1]   [Link 2]
  56. Soal 56  [Link 1]   [Link 2]
  57. Soal 57  [Link 1]   [Link 2]
  58. Soal 58  [Link 1]   [Link 2]
  59. Soal 59  [Link 1]   [Link 2]
  60. Soal 60  [Link 1]   [Link 2]
  61. Soal 61  [Link 1]   [Link 2]
  62. Soal 62  [Link 1]   [Link 2]
  63. Soal 63  [Link 1]   [Link 2]
  64. Soal 64  [Link 1]   [Link 2]
  65. Soal 65  [Link 1]   [Link 2]
  66. Soal 66  [Link 1]   [Link 2]
  67. Soal 67  [Link 1]   [Link 2]
  68. Soal 68  [Link 1]   [Link 2]
  69. Soal 69  [Link 1]   [Link 2]
  70. Soal 70  [Link 1]   [Link 2]
  71. Soal 71  [Link 1]   [Link 2]
  72. Soal 72  [Link 1]   [Link 2]
  73. Soal 73  [Link 1]   [Link 2]
  74. Soal 74  [Link 1]   [Link 2]
  75. Soal 75  [Link 1]   [Link 2]
  76. Soal 76  [Link 1]   [Link 2]
  77. Soal 77  [Link 1]   [Link 2]
  78. Soal 78  [Link 1]   [Link 2]
  79. Soal 79  [Link 1]   [Link 2]
  80. Soal 80  [Link 1]   [Link 2]
  81. Soal 81  [Link 1]   [Link 2]
  82. Soal 82  [Link 1]   [Link 2]
  83. Soal 83  [Link 1]   [Link 2]
  84. Soal 84  [Link 1]   [Link 2]
  85. Soal 85  [Link 1]   [Link 2]
  86. Soal 86  [Link 1]   [Link 2]
  87. Soal 87  [Link 1]   [Link 2]
  88. Soal 88  [Link 1]   [Link 2]
  89. Soal 89  [Link 1]   [Link 2]
  90. Soal 90  [Link 1]   [Link 2]
Ingin mendownload semuanya dengan sekali klik, gunakan link di sini.

10/10/16

Menghapal Perkalian

Belum hapal..udah hapal tapi sedikit..cuma sampe perkalian lima aja..kira-kira reaksi seperti itu yang sering saya temui ketika mengajar di kelas, bahkan ada yang mesem-mesem aja kalau ditanya “udah hapal perkalian belum?”. Terkadang anak yang mengaku sudah hapal perkalian ketika di tes, atau mengerjakan soal latihan juga masih banyak lupanya.
Dalam matematika perkalian bagaikan senjata yang harus dimiliki setiap murid sebelum berjuang lebih jauh menaklukkan berbagai rumus dan soal. Bayangpun, eh bayangkan coba.. mau ke medan perang tanpa senjata memadai, yo modar. Begitu juga ketika belajar matematika, maksud hati hendak menyelesaikan soal, apa daya rumus yang berusaha dihapal tak banyak membantu karena kesulitan menggunakannya  sebab tak hapal perkalian.
Ada cerita dari rekan guru yang terdengar agak miris sebenarnya, ketika mengajar dia mendapati muridnya belum hapal perkalian. Terus dimana mirisnya? Mirisnya, teman saya mengajar di level sekolah menengah atas (SMA). Saya sering menemui anak-anak di tingkat sekolah dasar yang belum hapal perkalian, bahkan hingga menjelang Ujian Sekolah (UN). Hal tersebut tidak pernah saya khawatirkan, karena saya berkeyakinan seiring meningkatnya level pendidikan si anak akan mampu menghapal dengan sendirinya. Hingga saya mendengar cerita dari rekan guru itu, ternyata asumsi saya tidak tepat seluruhnya.
Sering saya memotivasi siswa agar berusaha mencoba menghapal perkalian, tidak ketinggalan saya berikan berbagai tips klasik, baik cara, metode, maupun waktu menghapal. Bukan bermaksud memaksakan matematika menjadi sesuatu yang mereka favoritkan, bukan itu tujuan saya. Semangat berusaha, pantang menyerah, menjadi lebih baik, dan memperbaiki kekurangan diri sendiri itu yang saya inginkan dari proses tersebut. “Tidak bisa menguasai matematika tidak akan menjadikan kalian orang yang gagal, banyak cara lain untuk menjadi sukses”, motivasi saya kepada anak-anak didik saya, “Tapi mudah menyerah itu yang menjadikan kalian gagal dalam hidup, kita harus mencoba dulu, kalau gak dicoba kan gak tau”
Pernah saya diminta mengajar privat di rumah oleh orang tua murid di luar tempat saya mengajar. Tidak langsung saya terima pekerjaannya, tapi saya minta ketemuan aja dulu. Ayah si anak bercerita anaknya yang kelas 5 sudah sejak lama kesulitan matematika, bahkan sering mengatakan dirinya membenci matematika. Singkat cerita tawaran tersebut saya terima, dan tidak sampai disitu ternyata hal ini juga menarik perhatian saudara keluarga tersebut, dan meminta saya mengajar anaknya yang kelas 4. Sekarang kedua anak tersebut sudah di level sekolah menengah pertama. Pada awal pertemuan belajar, saya tidak fokus ke materi, saya lebih tertarik mendiagnosa kemampuan mereka. Ibarat seorang dokter yang hendak memberikan perawatan, jelas harus memahami kondisi pasiennya. Saya mulai dengan memberikan soal-soal penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, dan wow..cukup lambat. Pertemuan awal saya sudah mengetahui kondisi anak didik saya selanjutnya menentukan solusi yang baik untuk mereka. Setiap pertemuan sekitar 90menit, sekitar 10-20 menit digunakan untuk mengasah kemampuan perkalian dan pembagian mereka, dan alhamdulillah setelah beberapa minggu pertemuan hasilnya sangat signifikan. Hingga keduanya lulus sekolah dasar saya dapat lihat sendiri, anak-anak yang tadinya dianggap tidak mampu di sekolah, dan membenci matematika, dengan solusi sederhana mampu menjadikan mereka sangat menyukai matematika. Sekali lagi saya melihat sendiri, tidak ada anak yang bodoh, hanya belum mencoba semua cara saja.
”Kamu tidak akan gagal hanya karena tidak bisa matematika”
Cara ini sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang tua, tanpa harus mendatangkan guru les privat ke rumah, namun kesibukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya. Ayah dan bunda tau, ada murid saya yang selalu dibully setiap kelas matematika hanya karena tidak bisa mengerjakan soal yang paling sederhana sekalipun. Secara pribadi saya sering meyakinkan dia,”Kamu tidak akan gagal hanya karena tidak bisa matematika”. Mudah-mudahan itu bisa membesarkan hatinya. Bisa jadi menghapal perkalian yang kita remehkan, menyebabkan anak kita kesulitan, lalu dia direndahkan, kemudian hilang kepercayaan dirinya, disusul hilangnya semangat, bisa jadi kebahagian masa sekolah dasarnya lenyap begitu saja karena hal yang begitu sepele. Ayah dan bunda, sudahkah mengetahui kemampuan perkalian mereka saat ini?
Semoga bermanfaat.

Balada Full Day School

Ceritanya lagi gencar penolakan terhadap wacana FULL DAY School oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Menurut bapak menteri, ‘full day school’ bukan berarti belajar sehari penuh, namun juga diisi kegiatan penanaman karakter (antaranews.com).
Saya sih gak terlalu mengikuti perkembangan beritanya, tau-tau udah heboh aja yang kontra, dan tiba-tiba wacana tersebut ditarik kembali oleh pak menteri. Sebagai seorang pengajar saya pribadi dalam posisi kontra dengan wacana ‘full day school’. Selama ini saya berasumsi anak didik saya kekurangan sentuhan tangan orang tuanya malah, sejak pagi sudah berangkat sekolah, pulangnya ikut les tambahan di sekolah maupun bimbingan belajar. Masa emas mereka banyak habis di luar rumahnya, ditangan para guru dan pengajar, bukan bersama kedua orang tuanya.
Memang karakter yang terbentuk pada setiap anak berbeda hasilnya ketika menghadapi situasi tersebut, ada yang saya lihat kondisinya selalu murung dan di bully temannya, ada yg sangat aktif dan jahil, ada yang cuek saja seperti tidak perduli, dan lainnya. Persamaan yang ada pada mereka semua adalah kurangnya adab dan ahlak, mungkin generasi yang besar di tahuan 90-an bisa merasakan degradasi adab dan ahlak terjadi pada generasi sekarang.
Mungkin kedua orang tuanya tidak lagi menjadi teladan yang baik, ketika supir dan pengendara ojek menjadi teman setia yang mengantarkan dan menjemput mereka setiap hari, dan sesampainya di rumah di sambut pembantu yang sebenarnya kedua profesi yang saya sebut tadi tidak lebih berpendidikan dari orang tua mereka. Sayangnya hasil sekolah yang begitu tinggi dari kedua orang tua para siswa tidak dimanfaatkan untuk mendidik dan membentuk adab dan ahlak yang baik pada anak-anaknya, namun lebih diutamakan untuk kepentingan bisnis, kantor, rekan dalam rangka mencari kesenangan dan materi, dan mengabaikan mendidik anak-anak mereka.
Pernah saya dapati cerita dari seorang siswa, yang notabenenya kedua orang tuanya lulusan UNIVERSITAS TOP di Indonesia, di jurusan yang mentereng juga tentunya, sebut saja berbau teknik. Melihat si anak agak lambat dalam belajar saya mencoba mengajak ngobrol si anak. Hingga si anak menjelaskan kalau kedua orang tuanya lulusan fakultas favorit di universitas ternama, ayah bekerja di luar kota yang hanya berjarak beberapa jam perjalanan sehingga setiap hari dapat pulang ke rumah, dan ibu yang tidak bekerja hanya di rumah. Saya makin penasaran, ini anak ibunya di rumah tapi kok agak lambat ya dalam belajar. Ternyata oh ternyata keberadaan ibu di rumah seringkali mengabaikan keberadaan anak, seperti kebanyakan orang tua yang hanya menyuruh anaknya belajar dan tidak ditemani, terjadi juga pada ibu ini. Anaknya bilang ibunya seringnya cuma nyuruh belajar, lalu ditinggal menonton film korea oleh ibunya (korea lovers ternyata si ibu itu). Yo wis, pada bae kalau begitu.
Anak pulang lebih awal dari sekolah saja, masih banyak orang tua berlepas diri terhadap anaknya. Mereka berpikir kewajiban mereka sudah diserahkan ke pihak sekolah. Bagaimana kalau ‘full day school’ ya???
Ahh..aku yo mumet jal…
Materi ekonomi itu penting, pendidikan anak juga sangat penting. Apalagi bagi muslim yang meyakini kelak anak-anak mereka menjadi aset jika kelak mereka sudah meninggal dunia. Karena amalan yang dapat terus mengalir bagi seorang muslim setelah meninggal hanya tiga, yaitu :
  1. Sedekah jariah (sedekah harta di jalan yang baik sesuai syariat agama Islam)
  2. Doa anak yang shalih (terutama yang dididik langsung oleh orang tua atau ada peranan orang tua dalam pendidikannya)
  3. Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan (bayangkan jika berbagai pengetahuan yang anda ajarkan kepada anak anda digunakannya dalam kehidupannya, kebaikan akan terus mengalir bagi anda)
Bekerja dan mendidik anak bukanlah suatu hal yang menarik untuk menjadi bahan perdebatan, setiap keluarga memiliki karakter anggota dan kondisi yang berbeda-beda, sebaiknya sebagai orang tua senantiasa belajar menjadi sosok yang bermanfaat bagi anak-anaknya, mudah-mudahan kelak anak-anak anda bermanfaat bagi anda baik di dunia maupun di akhirat, amiin. Semoga curahan opini saya ini bermanfaat. Terima kasih.

27/09/16

Mengubah Pecahan Menjadi Desimal

Assalamualaikum..mungkin..mungkin ni ya..anda sebagai kakek, nenek, orang tua, kakak, abang, sepupu, tetangga, pembantu, atau siapa aja pernah ditanya oleh anak kecil yang masih di bangku sekolah dasar di negara Indonesia (kalimat pengantar ini memang terkesan lebay, tapi tak apalah..) tentang materi satu ini, “Mengubah Pecahan Menjadi Desimal”. InsyaAllah kita akan membahasnya kali ini, agar jika ada anak SD yang bertanya kita sudah siap, tapi jika sudah terlanjur ditanyakan dan ternyata rekan-rekan belum mampu menjawab, ya tidak mengapa..itu sudah takdir.
Okeh, baiklah..langsung saja, tidak usah berlama-lama lagi..langsung kita mulai, gak usah basa-basi..siap ya, okeh kita mulai..
Secara umum ada dua acara yang dapat kita gunakan untuk mengubah pecahan menjadi desimal, yang pertama menjadikan penyebut pada pecahan yang akan kita ubah menjadi kelipatan per 10 (.../10), per 100 (.../100), per 1000 (.../1000), dan seterusnya yang penting kelipatan dari perkalian 10 x 10 = 100 x 10 = 1000 (mudah-mudahan paham ya..), dan yang kedua dengan cara pembagian bersusun ke bawah.
Contoh :
½ = 5/10 = 0,5
Penjelasan : sebelum diubah penyebutnya adalah 2 kemudian diubah menjadi 10, maka baik pembilang maupun penyebut sama-sama dikali 5, dapat deh 5/10, atau dapat kita baca 5 : 10 atau (5 dibagi 10), yang artinya memiliki nilai desimal 0,5.
Cara yang pertama berkaitan dengan cara yang kedua. Bagaimana dengan cara kedua yang menggunakan pembagian bersusun ke bawah? Lebih jelasnya silahkan lihat video penjelasannya di sini. Mudah-mudahan diberikan kemudahan untuk memahami. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

24/09/16

Pecahan Senilai dan Membandingkan Pecahan

Assalamualaikum, insyaAllah kali ini kita masih akan membahas pecahan, khususnya pecahan senilai. Mari kita saksikan, halahh..
Seringkali kita menemukan dua atau lebih pecahan yang sekilas terlihat berbeda, tapi sebenarnya sama saja. Misalnya nih, 3/6 dengan 2/4 , atau 5/15 dengan 3/9 , sekilas kalau diperhatikan seperti berbeda ya nilai pecahannya, padahal sama loh nilainya (amazing bukan..??, hahaha..)
Inilah yang disebut dengan pecahan senilai. Bagaimana cara membandingkan antara dua pecahan atau lebih, dan bagaimana cara menentukan pecahan senilai suatu pecahan? Penjelasannya dapat dilihat di sini. Mudah-mudahan diberikan kemudahan untuk memahami, terima kasih.

18/09/16

Pecahan ( Fraction )

Assalamualaikum,

 insyaAllah kali ini kita akan membahas sedikit tentang pecahan atau yang lebih dikenal dengan istilah Fraction (halah..). Pecahan merupakan suatu bentuk bilangan yang memiliki pembilang dan penyebut. 

Contohnya ½ (angka yang di atas dinamakan pembilang dan di bawah dinamakan penyebut). Bentuk pecahan ini biasa juga disebut pecahan biasa (loh..loh..loh..kalo gitu ada pecahan luar biasa dong??), hehehe..ya nggak ada pecahan luar biasa. Bentuk lain dari pecahan adalah pecahan campuran, contohnya  1 ¾ (mirip dengan pecahan biasa, tetapi diawali dengan bilangan bulat).

Bentuk pecahan biasa bisa berubah menjadi bentuk pecahan campuran, syaratnya pembilang harus lebih besar nilainya dibandingkan penyebut. Contohnya 5/2  , bilangan pecahan ini memiliki pembilang yang lebih besar nilainya daripada penyebutnya. Sebaliknya pecahan campuran juga bisa diubah menjadi bentuk pecahan biasa, tidak ada syarat khusus bagi sebuah pecahan campuran untuk diubah menjadi pecahan biasa.

Ok biar lebih jelas mengenai perubahan antara pecahan biasa dan campuran dapat dilihat di sini. Semoga diberikan kemudahan untuk memahami, semoga bermanfaat, terima kasih.

15/09/16

FPB dan KPK (Bagian 4)

Menentukan FPB dan KPK Menggunakan Cara Tabel (Petak Sawah)

Assalamualaikum..insyaAllah kali ini kita akan membahas cara menentukan FPB dan KPK menggunakan cara tabel (petak sawah). Selain dengan cara pohon faktor, ternyata ada cara lain menentukan fpb dan kpk yaitu dengan cara tabel atau yang dikenal juga dengan nama petak sawah (dinamakan demikian mungkin karena mirip petakan di sawah bentuknya, hehe). Cara ini dianggap lebih mudah oleh siswa yang kesulitan menentukan faktorisasi prima yang digunakan pada cara pohon faktor, dengan cara tabel fpb dan kpk langsung dapat dilihat dengan mudah. Baiklah biar lebih jelas langsung saja..misalnya kita mau menentukan FPB dan KPK dari 30 dan 42, kita siapkan tabel seperti berikut…

1
Tabel tersebut terdiri dari tiga kolom, yang paling kiri merupakan kolom angka prima yang kita gunakan sebagai pembagi, dan kolom kedua dan ketiga merupakan kolom angka yang akan kita cari FPB dan KPK nya. Angka 30 dan 42 kita bagi dengan bilangan prima, agar lebih mudah dan rapi kita biasakan membaginya dengan bilangan prima terkecil lebih dahulu, jika salah satunya masih bisa terus gunakan angka prima yang sama untuk membaginya, jika sudah tidak dapat dibagi lagi maka gunakan angka prima sesudahnya, terus begitu sampai semua kolom menjadi 1 karena habis dibagi dengan bilangan prima.
Begini prosesenya..

Pertama kita bagi 30 dan 42 dengan bilangan prima terkecil yaitu 2, masing-masing hasilnya 15 dan 21.
2Kemudian kita cek apakah 15 dan 21 bisa dibagi dengan 2, jika tidak ada yang bisa dibagi dengan 2 maka kita gunakan bilangan prima berikutnya untuk membaginya yaitu 3. Jadinya seperti ini..
3Sekarang hasil pembagian 15 dan 21 dengan 3 menghasilkan angka 5 dan 7. Kita cek lagi apakah 5 dan 7 masih bisa dibagi 3, jika tidak bisa, maka kita bagi dengan angka prima berikutnya yaitu 5. Tapi yang dapat dibagi dengan 5, ya cuma angka 5 sedangkan 7 tidak bisa. Hal ini tidak masalah, yang tidak bisa dibagi dengan angka 5 cukup kita kasih tanda “-“ yang menandakan tidak bisa. Maka kita dapatkan..
4Jika sudah menjadi 1 maka kolom tersebut sudah selesai, dan tidak perlu dibagi lagi dengan angka prima. Kita tinggal membagi kolom lain dengan angka prima agar menjadi 1. Pada kolom tersebut menyisakan angka 7, maka hanya tinggal dibagi dengan angka prima 7 agar menjadi 1. Begini jadinya..
5Oke sekarang masing-masing kolom angka yang akan kita tentukan FPB dan KPK nya telah menjadi 1. Lengkapnya seperti ini..
6
Kita perhatikan kolom selain kolom bilangan prima, ada dua kolom yang terisi bersamaan (ditulis dengan warna merah), sedangkan kolom lain hanya terisi salah satunya. Nah..disini kita tinggal mengalikan angka prima dari kolom yang keduanya terisi angka (yaitu baris 1 dan 2) untuk mendapatkan FPB, dengan angka prima 2 dan 3, maka 2 x 3 = 6 (ya..kita dapatkan FPB nya 6).

Bagaimana dengan KPK nya?? Lebih mudah lagi..kita tinggal mengalikan seluruh angka yang ada di kolom angka prima, yaitu 2, 3, 5, dan 7. Maka KPK nya adalah 2 x 3 x 5 x 7 = 210. Cukup mudah bukan?

Mudah-mudahn dapat dipahami dan diberikan kemudahan untuk memahaminya, untuk video penjelasannya dapat dilihat di sini dan di sana. Terima kasih.